Binar Mentari
Binar Mentari

Ia, yang ditemani sepi laksana sahabat sejati.Bagi Mentari, kesepian bukan sekali dua kali ia rasakan. Lima belas tahun sudah ia lalui tanpa kehadiran Ibunda yang telah lebih dahulu kembali ke langit, meninggalkannya sendiri di daratan kering tanpa rintik. Ia tak diberi waktu untuk bersiap, hanya bisa menerima kenyataan bahwa Ibunda menyerahkan diri pada penyakit yang menggerogoti badan dan pikiran pemberian Sang Pencipta.Di panti asuhan tempat ia dirawat selama tujuh tahun setelah Ibunda wafat, ia diajarkan untuk mengapresiasi segala hal. Dari sana, ia mulai mengapresiasi kesendirian yang ditinggalkan. Ia tersenyum saat disapa, tertawa saat diajak bersenda gurau, dan berbincang saat didatangi. Namun, sepi tetap menjadi pilihan yang ia hampiri dengan sukarela. Setelah memutuskan hidup mandiri pun ia tetap seperti itu. Mentari tetap bersinar, meski binarnya perlahan meredup.
Biodata Diri
Nama Lengkap: Binar Mentari
Tanggal Lahir: 27 Juli 2003
Keluarga: Bunda (wafat), Ayah (cerai hidup), Yeni (si bandel)
Hobi: Melukis tapi mahal
Pekerjaan: Akuntan
Pendidikan Terakhir: S-1

Yeni si nakal
Mentari dan Kelana
Kelana Antara

Ia, yang kehadirannya memancar sinar putih yang menghangatkan.Kelana, seorang dosen muda berusia tiga puluh tahun di Fakultas MIPA, tepatnya pada Program Studi Kimia. Meski memulai karir dosennya pada usia dua puluh lima tahun, bisa dibilang ia merupakan dosen yang cukup terkenal di kalangan mahasiswanya. Perawakannya tinggi, sifatnya meski dingin, namun komunikasi dalam penyampaian materinya tidak melepas mahasiswanya tanpa arahan. Seorang dosen ideal, kata mereka.Mentari pertama kali bertemu dengannya saat Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) berlangsung. Kala itu, usianya menginjak dua puluh tahun dan berada pada semester kelima. Ia dan kedua rekannya mengajukan proposal untuk menggunakan ekstrak kulit matoa sebagai bahan dasar parfum untuk menggantikan alkohol yang sensitif bagi sebagian orang. Saat pertengahan penyusunan, dosen pembimbingnya berubah menjadi Kelana. Dari sanalah cerita keduanya dimulai.Mentari masih mengingat jelas momen itu. Ia tengah beristirahat di atas bukit belakang gedung rektorat, dengan kanvas separuh berwarna di hadapan dan palet warna serta kuas di tangan, saat Kelana menghampiri. Mereka bertukar kata yang lebih personal, bukan sekadar pembahasan tentang surfaktan sebagai jembatan atau pun formulasi untuk mikroemulsi yang hingga saat itu masih dalam proses penelitian. Terus terang saja, Mentari tidak begitu mengerti hal-hal tersebut karena latar belakang pendidikannya tidak termasuk dalam bidang sains.Saat itu, untuk pertama kalinya ia merasa hidup. Bahkan setelah PIMNAS selesai dan tim Mentari membawa pulang penghargaan favorit untuk presentasi, komunikasi mereka tidak putus. Sejak saat itu, ia sadar bahwa Kelana telah menjadi bagian dari kesepian hidupnya.Mereka bilang bahwa umur adalah angka. Namun bagi Mentari, perbedaan umur yang terpaut tujuh tahun menunjukkan pula perbedaan pola pikir mereka. Ia yang setelah sekian lama akhirnya kembali merasa hangat, mendamba untuk merasa kehangatan itu dengan sering. Frekuensi pertemuan mereka meningkat atas permintaannya.Mentari yang meminta waktu dari Kelana, dan Kelana yang memberikan waktu untuk Mentari di tengah kesibukan mengajarnya.Terdengar romantis. Sampai efek yang ditimbulkan berlawanan bagi keduanya. Semakin mereka sering bertemu, semakin cerah binar Mentari. Dan semakin dingin kehangatan di antara mereka. Waktu yang dirasa mendekatkan bagi Mentari justru terasa menjauhkan bagi Kelana. Perasaan yang dulu hidup mulai redup, hingga akhirnya perpisahan tak terelakan sehari sebelum Mentari genap berusia dua puluh tiga tahun.Perasaan Mentari bagai bunga mawar yang dipenuhi duri yang menyakiti penerimanya.
Biodata Diri
Nama Lengkap: Kelana Antara
Tanggal Lahir: 15 Desember 1995
Keluarga: Ayah dan Ibu
Hobi: Melukis, Menulis, Membaca, Memasak
Pekerjaan: Dosen
Pendidikan Terakhir: S-2

Kelana dengan Yeni